11.3.22

Persiapan menuju Ramadan 1443H-Menyapih

Ramadan 1443 H tinggal menghitung hari. Kira-kira akan dimulai pada 2 April nanti. Setiap orang tentu memiliki persiapan masing-masing. Ada yang mulai merutinkan tilawah, membiasakan tilawah di awal waktu sebelum beraktivitas, melunasi hutang puasa qada, dll. 

Untuk kami, salah satu persiapannya adalah dengan menyapih anak ketiga kami. Alhamdulillah bulan Februari ini, ananda genap 2 tahun. Sebelumnya, paksu sempat kepikiran bahwa ananda anak bungsu, tidak seperti kakak-kakaknya dulu yang sebelum dua tahun adeknya lahir atau udah ada adek bayi di perut bundanya, dikasih bonus nyusuinnya sepertinya tidak apa-apa. Kemudian saya teringat Ramadan beberapa bulan lagi. Saya mulai menimbang-nimbang apa saja manfaat menyapih sebelum Ramadan (saat sudah genap 2 tahun) seperti:

- sang bunda lebih semangat puasanya (hehe) karena ga lemes..hehe..jadi bisa lebih fokus melakukan aktivitas lain

- anak menuju ke arah mandiri karena tidak bergantung dari nenen ibunya

- bisa fokus ke milestone ananda yang lain. Karena sudah disapih dan lebih menuju ke arah mandiri, maka bisa mulai memikirkan untuk toilet training. Di beberapa keluarga malah ada yang sudah memulainya saat ananda setahun atau kurang dari setahun. Di kami, kami berencana setelah disapih saat kosakatanya semakin lengkap dan jalannya juga sudah stabil. Untuk anak ketiga kami, alhamdulillah pup sudah bisa di toilet (kami pakai toilet jongkok) sejak usia 1,5 tahun, namun untuk pipisnya masih PR kami. Dulu sempat pas di awal² bisa pup di toilet itu sempet nyobain hanya pakai celana saja, ternyata sejam bisa pipis berkali-kali. Karena saya belum siap, jadi sejauh ini belum mencoba toilet training. Mudah-mudahan ke depan saat kondisi kami terutama saya sudah siap lahir batin bisa berhasil. 

Oiya setiap anak punya milestone masing-masing, jadi tidak perlu khawatir. Biasanya yang menjadi patokan untuk toilet training itu antara lain:

- sudah bisa berbicara dengan cukup jelas (bisa bilang yang menunjukkan mau pup atau pipis) dan sudah memahami definisi pipis dan pup

- sudah bisa ditopang dengan jalan yang stabil (ini versi kami sih, karena bakalan sering ke kamar mandi) 

Kembali terkait menyapih... 

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, kami pun menyapih anak ketiga kami begitu genap 2 tahun sebagaimana kakak-kakak sebelumnya. Oiya menyusui dan menyapih adalah diperintahkan Allah. Jadi, keduanya mulia. Menyapih juga perlu sering disampaikan ke anak. Misal saat usia setahun, kita mulai sampaikan bahwa setahun lagi akan disapih. Saat satu setengah tahun dan beberapa bulan sebelumnya disampaikan lagi. Di bulan terakhir hampir tiap hari disampaikan. Pada minggu2 terakhir demikian pula. Biasanya meski sudah disampaikan ananda sambil ketawa akan bilang "mau nenen". Hehe, ndak papa. Seenggaknya sudah ancang-ancang. Ada juga yang mengedukasi bahwa minum di botol itu keren lho, ini dari Ummu Balqis kalau tidak salah. 

Berdasarkan pengalaman dari menyapih dua anak kami sebelumnya, suksesnya menyapih salah satunya dipengaruhi oleh konsistensi. Saat kita sudah berniat menyapih, maka saat itu pula kita tidak memberikannya sambil dikasih tahu seperti "maaf adik sudah 2 tahun. Nenennya sudah cukup ya Nak." Kalau pagi konsisten tidak kita beri, siang atau sore atau malam juga tidak. Demikian hari-hari setelahnya. Peran ayah juga turut membantu untuk bergantian, shift malam utamanya. Anak ketiga kami sebagai gantinya minta digendong kalau mau tidur, jadilah ganti-gantian gendong. Begitu kira-kira seminggu atau dua minggu ya. Sampai sudah lupa. Alhamdulillah kalau sekarang sudah bisa habis bobok ga minta gendong lagi (gendong-bobok-bangun-tawarin air putih-minum-pukpuk-bobok). Kalau dulu gendong-bobok-bangun-kasih air putih-gendong lagi-bobok lagi-dan berulang kembali sampai pagi. Hehehe. 

Apakah perlu dikasih yang pahit-pahit di puting? Pengalaman dari 3 anak kami tidak perlu. Alhamdulillah atas izin Allah, cukup berhasil dengan konsisten tidak memberi nenen. 

Demikian persiapan Ramadan kami eh utamanya persiapan saya dan my boy. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan keselamatan. 

Alhamdulillah. Segala puji Allah yang dengan nikmat-Nya, sempurnalah kebaikan-kebaikan. 

Ya Allah, tiada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah, dan yang sulit adalah mudah jika Engkau menghendakinya. 

----

Bantul, pada hari Jumat nan penuh berkah, pada semester akhir perkuliahan

29.11.21

Mengikuti Konferensi

Tulisan ini adalah sebagai salah satu bentuk rasa syukur saya atas salah satu nikmat Allah Ta’ala yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Ya, saya tidak pernah menyangka saya bisa mengikuti konferensi internasional. Sungguh, semua yang saya peroleh ini tak lain adalah atas kemurahan-Nya.

---

Tulisan ini akan terbagi menjadi 2 bagian utama yaitu terkait paper (submit paper) dan konferensi (setelah paper dinyatakan diterima)

Bagian 1: Paper

Beberapa bulan yang lalu, alhamdulillah saya telah menyelesaikan draft paper saya. Setelah memperoleh revisi dari kedua dosen pembimbing serta izin/restu dari beliau untuk submit, saya merasa lega sekali. Lega karena sudah mengantongi izin untuk submit sehingga langkah selanjutnya adalah mencari konferensi yang hendak saya ikuti. Kenapa konferensi? Pertimbangan saya saat itu adalah karena waktu. Proses reviu konferensi biasanya lebih cepat dibandingkan jurnal. Jika saya memilih jurnal, saya takut waktunya tidak cukup untuk mengejar kelulusan secara tepat waktu, mengingat syarat untuk pra-pendadaran adalah telah memiliki publikasi. Saat memilih konferensi, fokus saya adalah konferensi yang difasilitasi (organized or supported) oleh kampus tempat saya menimba ilmu. Kita juga bisa memastikan konferensi tersebut di website komunitas ilmiah/asosiasi professional seperti IEEE karena rujukan konferensi saya ke sana. Langkah selanjutnya, saya pun bersegera untuk langsung mencari daftar konferensi di EDAS melalui https://www.edas.info/ (setelah sebelumnya membuat akun). Menurut saya pribadi, jika paper yang sudah dibuat sudah mentog di kepala (idenya), lebih baik segera submit saja untuk memperoleh masukan dari para expert di bidangnya.

Tampilan di EDAS https://www.edas.info/

Ndilalahnya pas sekali, hari itu, 21 Juli 2021 adalah hari terakhir submission deadline. Sore hari, saya pun langsung submit paper ke konferensi tersebut. Ternyata proses submit paper ada lika-likunya (butuh beberapa kali proses hingga bisa berhasil submit meski sudah menggunakan template dari IEEE). Waktu itu ada kendala seperti font, ukuran margin yang tidak sesuai, dan authorname: doubleblind. Setelah bertanya dengan kakak-kakak senior (semoga Allah membalas kebaikan mereka), maka saya diarahkan agar pada naskah manuscript/paper kita tidak perlu dicantumkan nama pengarang, untuk pdfnya bisa menggunakan Nitro. Alhamdulillah menggunakan Nitro cukup membantu mengatasi masalah font, tinggal terkait ukuran margin di mana saya (dibantu suami) uthek-uthek manual supaya sesuai, tulisan di footer dihilangkan, dan alhamdulillah berhasil submit malam hari sekitar pukul 7 malam.

Tampilan beberapa notifikasi di EDAS saat gagal mencoba submit paper

13.10.21

Berprasangka Baik kepada-Nya

Apakah semua yang kita pengen itu harus menjadi kenyataan? Kenyataannya adalah bahwa ada banyak hal di luar kendali kita yang memungkinkan hidup berjalan tak selalu sesuai dengan harapan kita. Saat itu terjadi, di sinilah peran iman kita. Sebuah keyakinan bahwa tak pernah Allah itu mendholimi hamba-Nya, bahwa manusia itu ilmunya hanyalah sekelumit, sementara ilmu Allah itu Maha Luas dan tak terjangkau dengan ilmu kita, bahwa Allah itu begitu Pemurah dan Maha Penyayang dari semua yang penyayang. 

Saat saya kuliah dulu, kakak tingkat saya, Mbak Farida (semoga Allah membalas kebaikan beliau dengan balasan yang lebih baik), pernah bilang sesuatu yang sampai sekarang masih menempel sekali dalam ingatan saya. Kira-kira begini kata beliau:

"Saat kita ke sebuah toko, hendak membeli sesuatu. Kita dengan teliti sekali melihat barang itu, memastikan bahwa tak ada cacat di sana untuk memastikan bahwa barang yang kita beli adalah yang terbaik. Lalu saat kita yakin, maka kita pun membawanya pulang. Ternyata sampai di rumah, kita merasa kecewa. Ternyata ada yang luput dari pandangan kita. Demikianlah pandangan kita, seorang manusia, di mana saat merasa sudah yakin saja, bisa saja ada luputnya."

Saat ada sesuatu yang tak sesuai dengan harapan kita seperti pengen kuliah di kampus ini ternyata ga keterima tahun ini-perlu mencoba lagi hingga bisa masuk, pengen penempatan di kampung halaman ternyata bukan di sana, pengen kuliah di jurusan ini ternyata melenceng, bahkan untuk kuliah butuh usaha berkali-kali, maka berprasangka baik dulu sama Allah. Biasanya hikmah dapat kita peroleh seiring berjalannya waktu, ternyata lebih banyak kebaikan pada jalur-jalur yang Allah pilihkan untuk kita, jika kita renungi lebih dalam.

Mungkin dulu kita akan menangisi kondisi diri dan bertanya seperti ini: kenapa begini? Tapi, beberapa hikmah biasanya akan kita jumpai kemudian. Bila rasanya belum punya jawabannya, maka bisa kita tengok dari banyak hal-hal baik yang kita terima saat ini. Allah Maha Pemurah, nikmat-Nya sungguh banyak tak terkira, tak kan sanggup kita untuk menghitungnya, akan selalu ada banyak hal yang bisa disyukuri.

maka…

Mari kita berterima kasih sama Allah, yang telah memberikan kita kesempatan hidup, semoga kita bisa mengisinya dengan menebar manfaat. Aamiin..

Terima kasih untuk segala nikmat-Mu, Ya Rahman..yang tak pernah lekang oleh waktu karena Engkau begitu mencintai hamba-Mu..

"Wahai (Dzat) yang Maha Hidup dan Maha Berdiri! Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya, dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata" (H.R. Imam An-Nasai, Imam Al-Hakim)

---

Di suatu malam, di kampung halaman pada jeda sesaat mati lampu.


5.11.20

Hai

 


Sungguh tak terbayangkan saya bisa di sini. Semuanya betul-betul di luar dugaan saya sebelumnya. Saya sungguh takjub. Takjub dengan skenario dari Allah. Saya tidak akan pernah saya di kampus ini, di prodi ini tanpa izin dan bantuan dari Allah. Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah Swt yang dengan nikmat-Nya sempurnalah kebaikan-kebaikan.

Di sini ada banyak hal dengan nuansa baru. Teman-teman baru, dan tentunya ilmu baru beserta pernak-pernik perjalanan yang mengiringi di dalamnya. Satu kata untuk menggambarkannya, Seru! Oiya saya suka dengan suasana lingkungannya seperti “inggih/nggih” dan hal-hal lainnya seperti tindak tanduknya. Saya merasakan kembali suasana tanah kelahiran setelah merantau beberapa tahun lamanya.

Pada semester pertama kuliah ini kami langsung bertemu dengan mata kuliah metopen. Maka membuka jurnal adalah yang utama. Saya jadi berkenalan dengan IEEE. Gambar di atas adalah tampilannya. Selamat belajar dengan Bahagia (seperti sapaan dalam mata kuliah kami, Komputer dan Masyarakat!

4.10.20

Pas, tak lebih juga tidak pula kurang

Di antara kehamilan anak pertama, kedua, dan ketiga, kehamilan ketiga adalah yang tidak direncanakan. Setelah anak kedua lahir, kami berencana untuk memenuhi haknya yaitu 2 tahun ASI. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, jika hamil namun masih menyusui maka kuantitas ASI pun menurun drastis, maka kami pun mengupayakan agar anak kedua tetap memperoleh 2 tahun ASI. Qadarullah saat anak kedua berusia 19 bulan saya hamil lagi. Kalau jaman anak pertama dulu, saya hamil anak kedua pada saat anak pertama berusia 14 bulan dan sempat menyusui secara tandem. Kalau anak kedua kemarin tidak sampai tandem hanya menyusui saat hamil.

Kehamilan anak ketiga yang tanpa kami rencanakan (kalau diukur dengan ilmu manusia yang seuprit ini rasanya peluangnya kecil sehingga terasa mustahil) memiliki efek yang sungguh positif, jadi lebih banyak bersyukur. Saya yakin bahwa semua tentu atas takaran Allah..dan betul, sungguh Allah memberikan sesuatu itu dengan hikmah, dengan takaran yang tidak lebih dan tidak pula kurang, istilah kerennya adalah "pas", dengan takaran yang pas.

Kenapa?

Jika Allah mengabulkan doa kami hamil dengan selisih atau jeda dengan anak kedua 2 tahun, maka tentu kelahiran anak ketiga kami akan berada dalam masa pandemi. Masa di mana perlu banyak sekali persiapan. Sepertinya kami belum punya support system yang mumpuni untuk mendukung kondisi tersebut.

Alhamdulillah anak ketiga kami lahir tepat sebelum pandemi melanda Indonesia, khususnya Jabodetabek. Dengan kondisi kami hanya berdua saja tanpa ada sanak famili maupun yang bantu "rewang-rewang" di rumah, Alhamdulillah Allah berikan kemudahan dan kelancaran serta pertolongan tiada tara. Ibu mertua, setelah beberapa hari kelahiran, juga sempat menjenguk anak kami (cucu beliau).

Hikmah lainnya adalah kami bisa melakukan perjalanan k Jogja di mana usia dedek sudah terbilang lumayan cukup (lebih dari 6bulan). Saat hamil kemarin saya juga sempat melakukan senam ibu hamil yang difasilitasi dari kantor, bertemu dan berkenalan dengan bidan di balkes, sering berkonsultasi dengan beliau. Sempat melakukan medical check up juga sebelum hamil dan setelah hamil. Jadi tau Hb saya kalau sebelum hamil adalah normal di angka 13. Sering cek kehamilan juga di balkes. MashaAllah nikmat Allah sungguh banyak. Fabiayyiaalaairabbikumaa tukadzdziban..

Allah. Terima kasih banyak. Semoga Engkau membalas kebaikan orang-orang yang senantiasa membantu kami dengan pahala tanpa batas. Semoga Engkau Sayangi mereka Ya Rahman.

1.10.20

Belajar

 


Bismillah.. pagi ini lebih tepatnya dini hari ini sedang mencoba belajar pyclips. Tapi ternyata saya mengalami kebingungan bagaimana cara menginstallnya, mencoba bertanya kepada teman yang lain sepertinya sudah pada istirahat. Malah jadinya melipir ke python. Sekian purnama tak belajar lagi malah banyak yang lupa. Hikmahnya ilmu memang sangat perlu untuk senantiasa dipelajari dan digali, jangan pernah ditinggal pokoknya. Kalau lama tidak dibuka lagi, jadi banyak yang lupa ya.

Menyoba nyemplung di bidang ini. Ya Allah, mohon mampukan dan engkau berkahi. Belajar sesuatu yang baru itu jadi kayak makin kerasa sebutir pasir di pantai.  Ya Allah ilmu di dunia ini luas banget, banyak banget Ya Allah, apalagi ilmu-Mu.. 

25.9.20

Mencuci pada Sore Hari

Bagi rekan-rekan yang memiliki kesibukan luar biasa pada pagi hari dan punya mindset bahwa belum tenang rasanya jika hari ini belum mencuci baju, maka mencuci pada sore hari merupakan salah satu trik sederhana. Mencuci sore hari akan membuat kita tenang di esok pagi. Bangun pagi menjadi lebih terasa diberikan "banyak waktu". Pagi pun akan lebih bisa fokus pada hal-hal yang lain seperti memasak, beres-beres rumah sebentar, tilawah atau memulai mengerjakan PR. 

Selain mencuci pada sore hari, mengepel pada malam hari juga termasuk salah satu trik agar bangun pagi langsung menyentuh lantai nan kesat, pikiran lebih jadi rileks dan fresh. Lainnya? Tentu mencuci piring atau alat masak, biar pagi tinggal masak.

Nah... Jadi... mencicil pekerjaan atau kegiatan itu sangat berguna dan asyik. Tak lupa, mulai dengan bismillah ya..agar tak ada yang sia-sia, semua bernilai pahala, dan yang penting semoga Allah ridha...

Terima kasih Allah atas segala nikmat-Mu, semoga kami menjadi hamba yang senantiasa bersyukur. Menjadi hamba yang selalu berprasangka baik kepada-Mu..bahwa Engkaulah sebaik-baik Penyayang dari semua yang penyayang..

------updated per 1 Oktober 2020-----

Hal terberat adalah berusaha konsisten dalam menerapkan hal ini. Kadang setelah seharian berjibaku, badan lelah..maka tak apa..mari kita berikan hak tubuh untuk istirahat. Jika tak mampu mencicil banyak hal, cukup kerjakan semampu kita, ikhtiar semampu kita. Sebuah catatan untuk diri ini.

-----

Persiapan menuju Ramadan 1443H-Menyapih

Ramadan 1443 H tinggal menghitung hari. Kira-kira akan dimulai pada 2 April nanti. Setiap orang tentu memiliki persiapan masing-masing. Ada ...