25.4.17

Mesin Cuci

Gambar diambil dari http://daftarhargamesincuciterbaru.blogspot.com/2016/06/tips-memilih-mesin-cuci-front-loading.html
Postingan kali ini membahas mengenai mesin cuci. Bagi ibu bekerja, mesin cuci adalah andalan luar biasa. Tidak terbayang kalau harus mencuci menggunakan manual tangan..he. Kebetulan saat saya membaca karya novel Tere Liye yang berjudul Bumi, terdapat info mengenai mesin cuci. Berikut sepenggal bagian dari novel tersebut:

".. Kalau Ibu butuh mesin cuci yang bisa mencuci pakaian sekotor apa pun, kinerjanya kinclong, Ibu pilih saja yang front loading. Kapasistasnya besar, listriknya lebih hemat, dan efisien tempat. Meskipun kekurangannya, mesinnya lebih bergetar, suaranya lebih berisik, agak beraroma karena sering menyisakan air di dalam, dan lebih mahal."

...Ätau kalau Ibu hanya mencuci pakaian yang tidak terlalu kotor, bujet terbatas, dan tidak punya masalah dengan tempat di rumah, pilih saja yang top loading. kinerja mencucinya sebaik front loading, tapi siapa pula yang hendak mencuci seragam penuh lumpur? Anak ibu tidak suka pulang kotor-kotor, kan?...."

Demikian, pembahasan mengenai dua jenis mesin cuci tersebut. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Yang terpenting adalah disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran yang ada. :)

20.4.17

Welcome back to the office

Selamat datang kembali ke kantor
siapkan amunisimu
siapkan semangatmu
siapkan jua doa-doamu

titipkan anakmu pada Allah
Dia-lah sebaik-baik Pelindung dan Penolong
tiada daya dan kekuatan selain dari kekuatan Allah
tiada daya dan kekuatan selain dari kekuatan Allah

26.5.16

Tafsir Ibnu Katsir: Q.S. Al-Faatihah (1): 5


Gambar diambil dari http://islamichub.net/2015/06/worship-ibadah-and-servitude-ubudiyyah/

Q.S. Al-Faatihah (1): 5
“Hanya Engkaulah yang kami ibadahi dan hanya Engkaulah kami mohon pertolongan.”

Tafsir Ibnu Katsir berkenaan ayat di atas:
Para ahli qira’at sab’ah dan jumhur ulama membacanya dengan memberikan tasydid pada huruf ya’ pada kata “iyyaaka”. Sedangkan kata “nasta’iinu” dibaca dengan memfathahkan huruf “nun” yang pertama.
Menurut bahasa, ibadah berarti tunduk dan patuh. Sedangkan menurut syari’at, ibadah berarti ungkapan dari kesempurnaan cinta, ketundukan, dan ketakutan.

Didahulukannya maf’ul (objek), yaitu kata Iyyaka, dan (setelah itu) diulangi lagi, adalah untuk memberikan perhatian dan pembatasan. Artinya: ”Kami tidak beribadah kecuali kepada-Mu, dan kami tidak bertawakal kecuali hanya kepada-Mu.” Inilah puncak kesempurnaan ketaatan, dan secara keseluruhan agama ini kembali kembali kepada kedua makna di atas.

Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa surat al-Faatihah adalah rahasia al-Qur-an, dan rahasia al-Faatihah terletak pada ayat iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iinu “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu pula kami mohon pertolongan.”

Penggalan pertama, yakni “Hanya kepada-Mu kami beribadah” merupakan pernyataan berlepas diri dari kemusyrikan. Sedangkan pada penggalan kedua, yaitu “Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” merupakan sikap berlepas diri dari segala upaya dan kekuatan (makhluk), serta menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah Azza wa Jalla.

Makna seperti ini disebutkan dalam lebih dari satu ayat di dalam al-Qur-an. Misalnya, pada firman-Nya: “Maka beribadahlah kepada Allah dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekai-kali Rabb-mu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Huud: 123)

Dalam surat al-Faatihah ini terjadi perubahan bentuk kata ganti, dari ghaib (orang ketiga) kepada mukhatab (orang kedua, lawan bicara) yang ditandai dengan huruf “kaf” pada kata iyyaaka. Karena ketika hamba sedang memuji Allah (yang merupakan bentuk ketiga), maka seolah-olah ia merasa dekat dan hadir di hadapan-Nya. Oleh karena itu, Dia berfirman: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iinu.”

Lebih lanjut, ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa awal-awal surat al-Faatihah merupakan pemberitahuan dari Allah Azza wa Jalla tentang pujian bagi diri-Nya sendiri dengan berbagai sifat-Nya yang Agung, serta petunjuk kepada hamba-hamba-Nya agar memuji-Nya dengan pujian tersebut.

21.5.16

Hamba yang Lebih Mencintai dan Dicintai Allah


http://thayyiba.com/2016/09/23/5481/sungguh-aku-sangat-mencintai-allah/

Q.S Al-Baqarah (2) : 165
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal).”

Abu Darda r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Di antara doa yang dipanjatkan Dawud a.s., “Ya Allah, aku memohon kecintaan-Mu, kecintaan hamba yang mencintai-Mu, tunjukkanlah amalan yang menyampaikanku kepada cinta-Mu. Ya Allah jadikanlah cinta kepada-Mu lebih aku sukai dari diri, keluarga, dan dari air yang menyejukkan sekalipun.”(H.R. At-Tirmidzi)

Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang ada tiga perkara padanya, dia telah mendapatkan manisnya iman, yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya dari apa yang selain keduanya, mencintai dan membenci seseorang semata karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekafiran, sebagaimana dia benci jika akan dicampakkan ke dalam neraka.” (H.R. Al Bukhari  dan Muslim)

Tafsir Ibnu Katsir terkait ayat di atas:
Allah Swt menyebutkan keadaan orang-orang musyrik di dunia dan siksaan yang akan mereka terima di akhirat kelak atas perbuatan mereka menjadikan sekutu dan tandingan bagi-Nya yang mereka jadikan sesembahan selain Allah Ta’ala dan mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Padahal Dia adalah Allah, tiada ilah yang hak selain Dia, yang tiada bandingan dan sekutu bagi-Nya.

Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menceritkan, aku pernah bertanya: “Ya Rasulullah, dosa apa yang paling besar?” Beliau menjawab:
“Engkau membuat tandingan (sekutu) bagi Allah, padahal Dia telah menciptakanmu.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

31.3.16

Aku Rindu

Di dalam rintik-rintik hujan,
aku terlampau rindu,
pada tawa dan senyum semangatmu,
pada setiap celotehanmu,

Hafsa, ummi rindu

- di perpustakaan sembari menunggu waktu kuliah tiba

3.10.15

Metode Penelitian Pertemuan Minggu Pertama

Kelas kami, kelas “bintang” namanya. Pada hari Kamis kemarin di siang hari mendekati sore, kami mendapatkan ilmu tentang metodologi penelitian melalui dosen pengajar kami, Bapak Agung. Supaya materi yang disampaikan oleh beliau tidak terlupakan begitu saja, dan lebih terekam mendalam, saya ingin mengabadikannya melalui blog ini. Berikut ilmu yang kami peroleh mengenai metodologi penelitian yang diawali dengan membahas mengenai latar belakang masalah.

Latar belakang masalah memiliki titik poin pada bagaimana mengidentifikasi masalah. Masalah ini harus terbukti dan tak terbantahkan. Inilah salah satu hal penting dalam memotret masalah. Ketika sudah benar dalam memotret masalah, maka kira-kira sekitar 50%, skripsi kita tergolong aman, dalam artian tidak melenceng ke mana-mana.

Mengenai Rezeki

Beberapa waktu yang lalu ketika memutuskan untuk menikah, ada banyak hal yang membuat saya khawatir dan was-was. Eum, nanti uangnya dari mana yah? Tidak mungkin saya bergantung kepada orang tua. Meskipun, menikahkan anak adalah salah satu kewajiban orang tua, namun saya memahami sejauh mana kemampuan orang tua. Pada saat itu, akal saya serasa sudah mentog, dalam arti lain, udah kepentok, hingga berkali-kali saya seperti diingatkan, hei..ada Allah. Bukankah menikah adalah hal yang sangat baik. Lebih dari sekdar sangat baik malah. Itu adalah separuh agama. Lalu, bagaimana Allah tidak akan menolong hamba-Nya? Itu sangat tidak mungkin. Kekhawatiran itu pun sedikit demi sedikit sirna.

Berbekal keyakinan dan doa (favorit saya banget),<< Ya Allah, hamba memohon kemudahan, tiada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah, dan kesulitan adalah mudah jika Engkau menghendakinya.>> Bismillah… bismillah,,, bismillah, saya pun memantapkan diri menuju ke hari penuh  sejarah itu.

Persiapan menuju Ramadan 1443H-Menyapih

Ramadan 1443 H tinggal menghitung hari. Kira-kira akan dimulai pada 2 April nanti. Setiap orang tentu memiliki persiapan masing-masing. Ada ...