25.11.17

Kamu & Aku

Kamu yang begitu baik
Berjiwa lapang
Berkirim dalam doa-doa

Kamu yang begitu membumi
Meski langit
tak henti memandangimu
Meski matahari
tak lupa menyinarimu

Kamu yang begitu tak biasa
dan aku yang teramat sederhana





Mbak dan Umminya

Mbak dan Uminya
Betapa miripnya
parasnya,
polahnya,
Makanan favoritnya.

Mbak dan Uminya
Betapa miripnya
Gaya khasnya,
kalau sedang sedih,
kalau sedang uring-uringan,
kalau sedang berbunga-bunga.

-----
Nak, ummimu ini banyak sekali kekurangan nya. Semoga engkau jadi pribadi yang jauh lebih baik dari ummimu ini ya Nak..

21.11.17

Kacamata Kita

Allah..Allah..Allah
Lindungi diri ini
Dari memandang orang lain
Dari kacamata diri
Dari ukuran "sepatu" diri

Allah..Allah..Allah
Jauhkan diri ini dari berprasangka buruk
Juga jauhkan diri ini dari membuat oranglain berprasangka

Betapa menyeramkannya memandang orang lain dari kacamata diri sendiri
Duh..Duh..Betapa seramnya..

----
Betapa kita punya keterbatasan diri
Betapa masih rendahnya ilmu diri
Aih..apalah diri ini

20.11.17

Melahirkan Anak Kedua-part 2 (selesai)

Sabtu sore, 7 Oktober 2017 kami dengan rombongan besar (saya, suami, Mb Hafsa, dan mamak yang baru saja datang pada pagi hari) kontrol ke klinik untuk memeriksakan dedek di perut. Sambil menunggu dipanggil, saya bilang ke suami "Mudah2an habis ini disuruh maem yang banyak..hehe" maklum, menjalani diet saat hamil betul-betul tantangan tersendiri..hihi. Sudah mulai bosan diet apalagi keinginan untuk makan dan (tentu saja) mengemil cukup besar. Namun, program diet ternyata masih berlanjut, He. Dedek (39weeks) sudah mencapai 3.847gram (padahal ini uminya udah turun 700gram dan pemeriksaan/kontrol sebelumnya pada 24 Sept sudah turun 500gram).

Beberapa hal penting yang saya ingat saat pemeriksaan adalah ketuban (air) bagus. Denyut jantung dedek juga bagus. Semua Ok. Oiya, sampai pemeriksaan saya belum merasakan kontraksi sama sekali. Sebelum pulang, dokter berpesan, intinya adalah 1. Diet dilanjutkan ya! Semangat! (Begitu kata dokter kandungan saya,uwaa.. padahal mamak bawa bakpia dari Bantul) 2. Dokter menyarankan untuk induksi apabila sampai Jumat besuk (pas HPL/40weeks) belum ada kontraksi sama sekali karena berat dedek yang sudah mencapai 3,8kg. Jadi, kami perlu siap2 bawa baju pada hari Sabtu saat kontrol rutin.


Melahirkan Anak Kedua

Melahirkan adalah salah satu dari tiga peristiwa penting dalam sejarah manusia selain menikah dan kematian. Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan kebaikan dengan nikmat-Nya, Ahad, 15 Oktober 2017 pada dinihari 01:10, saya melahirkan anak kedua, perempuan dengan berat 3,670gram dan tinggi 50cm.

Saya kira melahirkan anak pertama dengan kedua tidaklah jauh berbeda. Dalam artian jika yang pertama lahir secara normal pada minggu ke-39, maka anak kedua juga akan lahir pada sekitaran minggu2 tersebut. Oleh karena itu, saya mengajukan cuti lahiran pada minggu ke-38 kehamilan. Namun, hanya Allah lah Yang Maha Mengetahui akan lahir kapan dan dengan cara seperti apa.


22.9.17

Home Education Kiki Barkiah-pertanyaan 22



Alhamdulillah beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan bergabung dengan kuliah whatsapp terkait home education bersama teh Kiki. Berhubung kuliah whatsaapp ini sarat materi dan karena takut kalau tidak dipindah ke blog akan hilang dan susah dicari, maka memindahkan materi ke blog adalah solusi jitu. Semoga bermanfaat bagi yang lainnya. Mohon maaf kalau dalam penyajiannya tidak urut.

22.
Wulandari
Teh, saya ada pertanyaan:
Terkait keteladanan (video 1), bagaimana mensiasati agar metode keteladanan yang saya dan suami terapkan tetap efektif, di lingkungan keluarga besar kami yang sering sekali terlihat sepupunya bertengkar, merokok secara garis besar tidak mencerminkan akhlakul karimah?

Jawaban Teh Kiki Barkiah:
Seperti yang sering saya ulas, lingkungan harus kita ciptakan semaksimal mungkin supaya mampu mensupport visi misi kita. Terutama untuk orang-orang yang berkaitan langsung dengan anak-anak kita seperti ART, nenek, kakek, kerbat, guru, lingkungan rumah dan sekolah yang sehat.

Lalu, bagaimana jika anak bertemu dengan roll model yang tidak baik padahal mereka dekat dan anak-anak berinteraksi langsung dengan mereka? Jadi, kalau kita meminta kepada orang dewasa, itu memang kadang lebih susah apalagi kalau berujung pada silaturrahim yang kurang baik. Apalagi kepada orang-orang di sekitar yang kita kenal dan kita tidak punya akses untuk secara direct beramal ma’ruf dan nahi munkar ke mereka.

Jadi, di akhir zaman anak-anak itu akan banyak ketemu dengan orang-orang seperti ini sebagaimana Rasul sudah menyampaikan bahwa orang yang beruntung di akhir zaman kan orang yang asing. Orang asing yaitu orang yang baik di tengah orang yang akhlaknya buruk dan itu kan cuma dikit prosentasenya, artinya kuncinya adalah bagaimana anak-anak itu mampu memilih pilihan yang ia yakini meskipun orang-orang di sekitarnya memilih hal yang lain.

Ini saya berbagi sedikit cerita pada saat saya di Amerika, waktu saya ingin meluruskan perilaku anak-anak atau memahamkan mereka tentang syariat atau apa pun yang baik dan apa pun yang buruk, otomatis waktu itu kita memposisikan diri kita sebagai seorang Muslim karena biasanya mereka melihat akhlak-akhlak yang buruk dari orang-orang di sana, kemudian saya bilang bahwa di dalam Islam kita seperti ini. Saya sih sebenernya ga bilang semisal, apakah agama yang lain hal itu diajarkan atau tidak, saya hanya bilang bahwa di dalam Islam seperti ini..., kita Muslim, kita pilih.

Sebenarnya saya menemukan masalah ketika anak-anak saya bertemu dengan orang-orang Muslim di Amerika atau orang-orang Muslim teman-teman saya, mereka nilai melihat bahwa yang dilakukan seorang Muslim ternyata tidak tidak sesuai dengan apa yang diajarkan ummi bapaknya tentang apa kata Allah dan Rasul sampaikan, barulah di situ kemudian saya merubah dan memberikan pengertian kepada mereka bahwa ini Islam, ini sempurna tapi tidak semua orang Islam itu melaksanakan Islam secara sempurna. Jadi, ini adalah pilihan kita. Kalau kita memilih untuk melaksanakannya, maka ini adalah konsekuensinya. Kalau kita memilih untuk tidak melaksanakannya ada juga konsekuensinya sehingga mereka mulai paham, oh ada Muslim yang tidak mau melakukan itu atau ada Muslim yang belum mendapat hidayah untuk melakukan itu atau ada Muslim ada yang belum tahu terhadap perintah seperti itu.

Waktu saya sampai di Indonesia, mulailah mereka makin melihat ketidakidealan karena pelaku-pelaku pelanggaran dan segala macam juga notabenenya adalah Muslim. Jadi, di situ juga mulai muncul satu kosakata baru waktu anak-anak baru pulang tentang “why people in Indonesia seperti ini” Jadi, mereka melihat itu bukan sebagai model tapi mereka melihat seperti budaya negara ini, tapi balik lagi saya berusaha untuk memahamkan sama anak-anak ini Islam, Allah atur kayak gini, Rasul bilang seperti ini, kemudian ada juga beberapa peraturan negara atau peraturan milik masyarakat atau peraturan dalam keluarga yang saya tetap mendiring anak-anak melakuakn peraturan tersebut meskipun orang-orang di sekitarnya tidak melakukannya. Termasuk ketika mereka mulai bertemu kerabat-kerabat, ketika saya membicarakan mengenai pacaran tetapi kerabat saya ada yang pacaran. Ummi bilang nikah itu jangan pacaran dulu, takutnya mereka melihat aktivitas-aktivitas itu di sekitar mereka sendiri dengan kerabat-kerabat mereka sendiri dan kembali saya memposisikan bahwa di dalam Islam seperti ini, Allah hanya bilang seperti ini, Rasulullah bilang seperti ini, tapi ada saudara ummi belum mau melaksanakan apa yang telah Allah sampaikan. Jadi, menguatkan pribadi mereka, dorong/ajak untuk tetap memilih apa yang boleh dan menghindari apa yang tidak boleh meskipun orang lain itu melakukan.

Mudah-mudahan dengan menguatkan konsep diri anak-anak, anak-anak lebih percaya diri walaupun pada kenyataannya pada saat kita ingin melaksanakan syariat itu harus melawan kenyamanan karena menjadi berbeda dengan lingkungan sekitar, jadi akhirnya “saya terpaksa” menyudutkan (dalam hal ini salah satu pihak), ya gimana, ummi sudah sampai ini pada kerabat ini tapi mereka tidak mau melaksanakannya, saya gak mungkin juga misal menutup-nutupi kerabat yang memang mereka sendiri secara eksplisit menunjukkan bahwa mereka melakukan hal yang salah. Akhirnya saya memahamkan pada anak saya bahwa sebenarnya itu salah, mereka memilih salah, Ummi sudah berusaha menasihati mereka, tetapi mereka tidak mau. Ya udah kita ajak pilih untuk tetap melaksanakan yang benar seperti apa.

Wallahu a’lam..



Sumber: tanya jawab kulwapp Home Education bersama Kiki Barkiah.

20.9.17

Home Education Kiki Barkiah-pertanyaan 15

Alhamdulillah beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan bergabung dengan kuliah whatsapp terkait home education bersama teh Kiki. Berhubung kuliah whatsaapp ini sarat materi dan karena takut kalau tidak dipindah ke blog akan hilang dan susah dicari, maka memindahkan materi ke blog adalah solusi jitu. Semoga bermanfaat bagi yang lainnya. Mohon maaf kalau dalam penyajiannya tidak urut.

15.
Asryn Inderayana, Bali
Assalamu’alaikum. Saya ingin bertanya. Apakah rasa jenuh dengan rutinitas yang nonstop 24 jam adalah hal yang wajar? Apalagi tinggal di rantau yang sama sekali ga ada keluarga, suami bekerja dari pagi sampai malam, ngurus tiga balita yang sedang egois-egoisnya. Ngurus anak-anak itu sendiri hingga terkadang ada perasaan lelah dan jenuh dengan rutinitas dan keriwehan 3 balita. Bagaimana menyikapi jika perasaan jenuh itu muncul? Apakah wajar ketika kita minta bantuan lebih ke pasangan yang telah seharian bekerja?

Jawaban Teh Kiki Barkiah:
Bismillahirrahmaanirrahiim..
Membangun sebuah keluarga tidak dilakukan sendirian. Kita bersama pasangan bersama-sama membangun keluarga sehingga diperlukan kerja sama satu sama lain, termasuk dalam mendidik anak-anak. Terlepas dari apakah suami sibuk atau tidak, full time di luar rumah untuk mencari nafkah atau tidak, tetap saja kewajiban mendidik isteri dan anak-anak adalah hal yang melekat dan utama bagi seorang suami.

Selelah apa pun aktivitas seorang suami di luar rumah, suami harus tetap mengkhtiarkan untuk memenuhi nafkah lahir dan batin isteri serta anak-anak di rumah. Termasuk dalam hal ini adalah pemenuhan kebutuhan seorang isteri untuk didengarkan, dibantu pekerjaannya, dicarikan solusi untuk permasalahan-permasalahannya, dan memahami perasaan-perasaan yang dirasakan oleh seorang isteri.

Kemudian jika pertanyaannya bolehkah seorang isteri minta bantuan kepada suami?  Jawabannya, justru seorang suami harus mau membantu isterinya. Karena di dalam Al- Qur’an, perintah terhadap seorang suami terkait dengan tanggung jawabnya kepada keluarga, tidak hanya tertulis dalam surat Al-Baqarah: 233, yakni tanggung jawab mencari nafkah berupa makanan dan pakaian yang layak, tetapi ada juga perintah-perintah lainnya, salah satunya yang tertulis dalam Q.S. At Tahrim:6

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At Tahrim : 6)

Bagaimana proses menjalankan perintah-perintah ini bisa dilakukan jika tidak pernah ada interaksi dan pemberian pendidikan secara langsung oleh suami kepada isteri dan anak-anaknya, termasuk di dalamnya adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan seorang isteri akan bantuan di luar kemampuan isteri dalam menjalankan tugas-tugas domestiknya.

Hal-hal apa sajakah yang bisa dilakukan oleh para suami agar para isteri merasa bahagia menjalankan amanahnya di dalam rumah? Para isteri di rumah mempunyai tanggung jawab untuk mengurus dan mendidik anak-anak sehingga para suami pun wajib berusaha mencukupi nafkah agar para isteri tidak berada pada kondisi terpaksa harus ke luar rumah. Terkecuali, pada peran-peran tertentu yang memang dibutuhkan kehadiran seorang perempuan, maka para suami harus berpikir tentang supporting sistemnya apabila ternyata memiliki isteri yang secara peran betul-betul dibutuhkan di masyarakat.

Namun, jika memiliki isteri yang hanya konsen di rumah, maka hal lain yang bisa dilakukan oleh seorang suami adalah mendukung dan mengizinkan isteri agar bisa  berkarya di rumah. Misalnya saja memiliki sebuah usaha di rumah atau mengaktualisasikan hobi dan minat di rumah. Hal ini akan sangat membantu sang isteri untuk mengatasi kejenuhan karena rutinitas yang terus-menerus dan berulang-ulang. Seorang isteri pun adalah manusia biasa yang butuh variasi hidup, yang salah satunya bisa dilakukan dengan mengaktualisasikan diri untuk berkarya di rumah.

Selain itu, seorang isteri juga membutuhkan ilmu dalam menjalankan peran sebagai seorang isteri sekaligus ibu, terutama perannya sebagai seorang ibu. Maka sangat penting bagi seorang suami untuk membekali isteri dengan sekian sarana dan prasarana yang dapat membantu isteri dalam mendidik dan mendampingi anak-anak di rumah. Misalnya, seorang suami mengizinkan isteri menuntut ilmu sesekali sebagai bentuk mengisi “me time” dalam rangka mengup-grade diri yang pada akhirnya membantu meningkatkan kualitas diri seorang isteri dalam menjalankan amanah di dalam rumah sebagai madrasah utama bagi anak-anaknya. Seorang suami juga harus mau  meluangkan hartanya untuk investasi pendidikan isteri dan anak-anaknya supaya bisa lebih baik lagi.

Selain berperan sebagai isteri dan seorang ibu, seorang perempuan juga memiliki peran dalam kehidupan masyarakat sehingga jika sesekali seorang istri harus menjalankan peran amanah di dalam masyarakat, maka suami juga perlu memberikan dukungan. Dukungan yang diberikan bisa berupa pemberian dana, menjamin transportasi atau termasuk menjadi supporting system urusan domestik pada saat seorang isteri harus ke luar rumah dalam rangka menjalankan perannya di masyarakat.

Bagaimana pun, salah satu yang termasuk sebagai ciri manusia terbaik adalah orang yang mempunyai manfaat untuk orang lain. Jika ternyata seorang isteri mempunyai potensi memberikan kebermanfaatan untuk masyarakat, maka kenapa tidak bagi seorang suami untuk memberikan dukungannya?

Seorang isteri juga manusia biasa yang bisa lelah dan membutuhkan refreshing. Maka hal lain yang juga bisa dilakukan oleh seorang suami misalnya menginfakkan sebagian harta dan waktu untuk mengisi kualitas akhir pekan sehingga terbangun kedekatan antar anggota keluarga, menghibur isteri yang bisa menjadi sebuah ibadah bagi suami. Kemudian memberikan kesempatan refreshing bagi isteri, bisa berupa pijatan jika memang diperlukan, atau mungkin ke salon agar sang istri bisa refresh dan istirahat sehingga lebih siap lagi dalam menjalankan amanah-amanahnya untuk satu pekan berikutnya, terutama saat ditinggalkan oleh suami yang harus ke luar rumah untuk mencarai nafkah.

Terkait dengan aktualisasi diri seorang isteri, para suami juga perlu untuk mendukung minat dan bakat seorang isteri agar mempunyai kesempatan untuk mengasah minat dan bakat tersebut selama secara porsi dan secara waktu tidak mengganggu urusan domestik.

Kebutuhan penting lainnya dari seorang isteri yang sangat perlu untuk dipenuhi oleh seorang suami adalah kebutuhan akan perhatian, pujian, dan kebutuhan untuk didengarkan keluh kesahnya untuk me-recharge kembali semangatnya. Bukan karena merasa kurang ikhlas atau ingin riya’, tetapi seorang isteri butuh untuk didengar dan diapresiasi sehingga hal ini perlu menjadi perhatian seorang suami yang bisa diniatkan sebagai upaya meningkatkan performa seorang isteri dalam menjalankan perannya di rumah.

Wallahu a’lam..

Sumber: tanya jawab kulwapp Home Education bersama Kiki Barkiah.



Persiapan menuju Ramadan 1443H-Menyapih

Ramadan 1443 H tinggal menghitung hari. Kira-kira akan dimulai pada 2 April nanti. Setiap orang tentu memiliki persiapan masing-masing. Ada ...