Kamu yang begitu baik
Berjiwa lapang
Berkirim dalam doa-doa
Kamu yang begitu membumi
Meski langit
tak henti memandangimu
Meski matahari
tak lupa menyinarimu
Kamu yang begitu tak biasa
dan aku yang teramat sederhana
Thanks to Allah.. "Hai manusia, beribadahlah kepada Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." Q.S. 2:21-22
25.11.17
Mbak dan Umminya
Mbak dan Uminya
Betapa miripnya
parasnya,
polahnya,
Makanan favoritnya.
Mbak dan Uminya
Betapa miripnya
Gaya khasnya,
kalau sedang sedih,
kalau sedang uring-uringan,
kalau sedang berbunga-bunga.
-----
Nak, ummimu ini banyak sekali kekurangan nya. Semoga engkau jadi pribadi yang jauh lebih baik dari ummimu ini ya Nak..
Betapa miripnya
parasnya,
polahnya,
Makanan favoritnya.
Mbak dan Uminya
Betapa miripnya
Gaya khasnya,
kalau sedang sedih,
kalau sedang uring-uringan,
kalau sedang berbunga-bunga.
-----
Nak, ummimu ini banyak sekali kekurangan nya. Semoga engkau jadi pribadi yang jauh lebih baik dari ummimu ini ya Nak..
21.11.17
Kacamata Kita
Allah..Allah..Allah
Lindungi diri ini
Dari memandang orang lain
Dari kacamata diri
Dari ukuran "sepatu" diri
Allah..Allah..Allah
Jauhkan diri ini dari berprasangka buruk
Juga jauhkan diri ini dari membuat oranglain berprasangka
Betapa menyeramkannya memandang orang lain dari kacamata diri sendiri
Duh..Duh..Betapa seramnya..
----
Betapa kita punya keterbatasan diri
Betapa masih rendahnya ilmu diri
Aih..apalah diri ini
Lindungi diri ini
Dari memandang orang lain
Dari kacamata diri
Dari ukuran "sepatu" diri
Allah..Allah..Allah
Jauhkan diri ini dari berprasangka buruk
Juga jauhkan diri ini dari membuat oranglain berprasangka
Betapa menyeramkannya memandang orang lain dari kacamata diri sendiri
Duh..Duh..Betapa seramnya..
----
Betapa kita punya keterbatasan diri
Betapa masih rendahnya ilmu diri
Aih..apalah diri ini
20.11.17
Melahirkan Anak Kedua-part 2 (selesai)
Sabtu sore, 7 Oktober 2017 kami dengan rombongan besar (saya, suami, Mb Hafsa, dan mamak yang baru saja datang pada pagi hari) kontrol ke klinik untuk memeriksakan dedek di perut. Sambil menunggu dipanggil, saya bilang ke suami "Mudah2an habis ini disuruh maem yang banyak..hehe" maklum, menjalani diet saat hamil betul-betul tantangan tersendiri..hihi. Sudah mulai bosan diet apalagi keinginan untuk makan dan (tentu saja) mengemil cukup besar. Namun, program diet ternyata masih berlanjut, He. Dedek (39weeks) sudah mencapai 3.847gram (padahal ini uminya udah turun 700gram dan pemeriksaan/kontrol sebelumnya pada 24 Sept sudah turun 500gram).
Beberapa hal penting yang saya ingat saat pemeriksaan adalah ketuban (air) bagus. Denyut jantung dedek juga bagus. Semua Ok. Oiya, sampai pemeriksaan saya belum merasakan kontraksi sama sekali. Sebelum pulang, dokter berpesan, intinya adalah 1. Diet dilanjutkan ya! Semangat! (Begitu kata dokter kandungan saya,uwaa.. padahal mamak bawa bakpia dari Bantul) 2. Dokter menyarankan untuk induksi apabila sampai Jumat besuk (pas HPL/40weeks) belum ada kontraksi sama sekali karena berat dedek yang sudah mencapai 3,8kg. Jadi, kami perlu siap2 bawa baju pada hari Sabtu saat kontrol rutin.
Beberapa hal penting yang saya ingat saat pemeriksaan adalah ketuban (air) bagus. Denyut jantung dedek juga bagus. Semua Ok. Oiya, sampai pemeriksaan saya belum merasakan kontraksi sama sekali. Sebelum pulang, dokter berpesan, intinya adalah 1. Diet dilanjutkan ya! Semangat! (Begitu kata dokter kandungan saya,uwaa.. padahal mamak bawa bakpia dari Bantul) 2. Dokter menyarankan untuk induksi apabila sampai Jumat besuk (pas HPL/40weeks) belum ada kontraksi sama sekali karena berat dedek yang sudah mencapai 3,8kg. Jadi, kami perlu siap2 bawa baju pada hari Sabtu saat kontrol rutin.
Melahirkan Anak Kedua
Melahirkan adalah salah satu dari tiga peristiwa penting dalam sejarah manusia selain menikah dan kematian. Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan kebaikan dengan nikmat-Nya, Ahad, 15 Oktober 2017 pada dinihari 01:10, saya melahirkan anak kedua, perempuan dengan berat 3,670gram dan tinggi 50cm.
Saya kira melahirkan anak pertama dengan kedua tidaklah jauh berbeda. Dalam artian jika yang pertama lahir secara normal pada minggu ke-39, maka anak kedua juga akan lahir pada sekitaran minggu2 tersebut. Oleh karena itu, saya mengajukan cuti lahiran pada minggu ke-38 kehamilan. Namun, hanya Allah lah Yang Maha Mengetahui akan lahir kapan dan dengan cara seperti apa.
Saya kira melahirkan anak pertama dengan kedua tidaklah jauh berbeda. Dalam artian jika yang pertama lahir secara normal pada minggu ke-39, maka anak kedua juga akan lahir pada sekitaran minggu2 tersebut. Oleh karena itu, saya mengajukan cuti lahiran pada minggu ke-38 kehamilan. Namun, hanya Allah lah Yang Maha Mengetahui akan lahir kapan dan dengan cara seperti apa.
22.9.17
Home Education Kiki Barkiah-pertanyaan 22
Alhamdulillah
beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan bergabung dengan kuliah whatsapp
terkait home education bersama teh Kiki. Berhubung kuliah whatsaapp ini sarat
materi dan karena takut kalau tidak dipindah ke blog akan hilang dan susah
dicari, maka memindahkan materi ke blog adalah solusi jitu. Semoga bermanfaat
bagi yang lainnya. Mohon maaf kalau dalam penyajiannya tidak urut.
|
22.
|
Wulandari
|
Teh, saya ada
pertanyaan:
Terkait keteladanan (video
1), bagaimana mensiasati agar metode keteladanan yang saya dan suami terapkan
tetap efektif, di lingkungan keluarga besar kami yang sering sekali terlihat
sepupunya bertengkar, merokok secara garis besar tidak mencerminkan akhlakul
karimah?
Jawaban
Teh Kiki Barkiah:
Seperti yang sering saya
ulas, lingkungan harus kita ciptakan semaksimal mungkin supaya mampu
mensupport visi misi kita. Terutama untuk orang-orang yang berkaitan langsung
dengan anak-anak kita seperti ART, nenek, kakek, kerbat, guru, lingkungan
rumah dan sekolah yang sehat.
Lalu, bagaimana jika
anak bertemu dengan roll model yang tidak baik padahal mereka dekat dan
anak-anak berinteraksi langsung dengan mereka? Jadi, kalau kita meminta
kepada orang dewasa, itu memang kadang lebih susah apalagi kalau berujung
pada silaturrahim yang kurang baik. Apalagi kepada orang-orang di sekitar
yang kita kenal dan kita tidak punya akses untuk secara direct beramal ma’ruf
dan nahi munkar ke mereka.
Jadi, di akhir zaman
anak-anak itu akan banyak ketemu dengan orang-orang seperti ini sebagaimana
Rasul sudah menyampaikan bahwa orang yang beruntung di akhir zaman kan orang
yang asing. Orang asing yaitu orang yang baik di tengah orang yang akhlaknya
buruk dan itu kan cuma dikit prosentasenya, artinya kuncinya adalah bagaimana anak-anak itu mampu memilih pilihan yang
ia yakini meskipun orang-orang di sekitarnya memilih hal yang lain.
Ini saya berbagi sedikit
cerita pada saat saya di Amerika, waktu saya ingin meluruskan perilaku anak-anak
atau memahamkan mereka tentang syariat atau apa pun yang baik dan apa pun
yang buruk, otomatis waktu itu kita memposisikan diri kita sebagai seorang
Muslim karena biasanya mereka melihat akhlak-akhlak yang buruk dari
orang-orang di sana, kemudian saya bilang bahwa di dalam Islam kita seperti
ini. Saya sih sebenernya ga bilang semisal, apakah agama yang lain hal itu
diajarkan atau tidak, saya hanya bilang bahwa di dalam Islam seperti ini...,
kita Muslim, kita pilih.
Sebenarnya saya
menemukan masalah ketika anak-anak saya bertemu dengan orang-orang Muslim di
Amerika atau orang-orang Muslim teman-teman saya, mereka nilai melihat bahwa
yang dilakukan seorang Muslim ternyata tidak tidak sesuai dengan apa yang
diajarkan ummi bapaknya tentang apa kata Allah dan Rasul sampaikan, barulah
di situ kemudian saya merubah dan memberikan pengertian kepada mereka bahwa
ini Islam, ini sempurna tapi tidak semua orang Islam itu melaksanakan Islam
secara sempurna. Jadi, ini adalah pilihan kita. Kalau kita memilih untuk melaksanakannya,
maka ini adalah konsekuensinya. Kalau kita memilih untuk tidak
melaksanakannya ada juga konsekuensinya sehingga mereka mulai paham, oh ada
Muslim yang tidak mau melakukan itu atau ada Muslim yang belum mendapat
hidayah untuk melakukan itu atau ada Muslim ada yang belum tahu terhadap
perintah seperti itu.
Waktu saya sampai di
Indonesia, mulailah mereka makin melihat ketidakidealan karena pelaku-pelaku
pelanggaran dan segala macam juga notabenenya adalah Muslim. Jadi, di situ
juga mulai muncul satu kosakata baru waktu anak-anak baru pulang tentang “why
people in Indonesia seperti ini” Jadi, mereka melihat itu bukan sebagai model
tapi mereka melihat seperti budaya negara ini, tapi balik lagi saya berusaha
untuk memahamkan sama anak-anak ini Islam, Allah atur kayak gini, Rasul
bilang seperti ini, kemudian ada juga beberapa peraturan negara atau
peraturan milik masyarakat atau peraturan dalam keluarga yang saya tetap
mendiring anak-anak melakuakn peraturan tersebut meskipun orang-orang di
sekitarnya tidak melakukannya. Termasuk ketika mereka mulai bertemu
kerabat-kerabat, ketika saya membicarakan mengenai pacaran tetapi kerabat
saya ada yang pacaran. Ummi bilang nikah itu jangan pacaran dulu, takutnya
mereka melihat aktivitas-aktivitas itu di sekitar mereka sendiri dengan
kerabat-kerabat mereka sendiri dan kembali saya memposisikan bahwa di dalam
Islam seperti ini, Allah hanya bilang seperti ini, Rasulullah bilang seperti
ini, tapi ada saudara ummi belum mau melaksanakan apa yang telah Allah
sampaikan. Jadi, menguatkan pribadi mereka, dorong/ajak untuk tetap memilih
apa yang boleh dan menghindari apa yang tidak boleh meskipun orang lain itu
melakukan.
Mudah-mudahan dengan
menguatkan konsep diri anak-anak, anak-anak lebih percaya diri walaupun pada
kenyataannya pada saat kita ingin melaksanakan syariat itu harus melawan
kenyamanan karena menjadi berbeda dengan lingkungan sekitar, jadi akhirnya “saya
terpaksa” menyudutkan (dalam hal ini salah satu pihak), ya gimana, ummi sudah
sampai ini pada kerabat ini tapi mereka tidak mau melaksanakannya, saya gak
mungkin juga misal menutup-nutupi kerabat yang memang mereka sendiri secara
eksplisit menunjukkan bahwa mereka melakukan hal yang salah. Akhirnya saya
memahamkan pada anak saya bahwa sebenarnya itu salah, mereka memilih salah,
Ummi sudah berusaha menasihati mereka, tetapi mereka tidak mau. Ya udah kita
ajak pilih untuk tetap melaksanakan yang benar seperti apa.
Wallahu a’lam..
|
Sumber: tanya
jawab kulwapp Home Education bersama Kiki Barkiah.
20.9.17
Home Education Kiki Barkiah-pertanyaan 15
Alhamdulillah
beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan bergabung dengan kuliah whatsapp
terkait home education bersama teh Kiki. Berhubung kuliah whatsaapp ini sarat
materi dan karena takut kalau tidak dipindah ke blog akan hilang dan susah
dicari, maka memindahkan materi ke blog adalah solusi jitu. Semoga bermanfaat
bagi yang lainnya. Mohon maaf kalau dalam penyajiannya tidak urut.
|
15.
|
Asryn Inderayana, Bali
|
Assalamu’alaikum. Saya
ingin bertanya. Apakah rasa jenuh dengan rutinitas yang nonstop 24 jam adalah
hal yang wajar? Apalagi tinggal di rantau yang sama sekali ga ada keluarga,
suami bekerja dari pagi sampai malam, ngurus tiga balita yang sedang
egois-egoisnya. Ngurus anak-anak itu sendiri hingga terkadang ada perasaan
lelah dan jenuh dengan rutinitas dan keriwehan 3 balita. Bagaimana menyikapi
jika perasaan jenuh itu muncul? Apakah wajar ketika kita minta bantuan lebih
ke pasangan yang telah seharian bekerja?
Jawaban
Teh Kiki Barkiah:
Bismillahirrahmaanirrahiim..
Membangun sebuah
keluarga tidak dilakukan sendirian. Kita bersama pasangan bersama-sama
membangun keluarga sehingga diperlukan kerja sama satu sama lain, termasuk
dalam mendidik anak-anak. Terlepas dari apakah suami sibuk atau tidak, full time di luar rumah untuk mencari
nafkah atau tidak, tetap saja kewajiban mendidik isteri dan anak-anak adalah
hal yang melekat dan utama bagi seorang suami.
Selelah apa pun
aktivitas seorang suami di luar rumah, suami harus tetap mengkhtiarkan untuk
memenuhi nafkah lahir dan batin isteri serta anak-anak di rumah. Termasuk dalam
hal ini adalah pemenuhan kebutuhan seorang isteri untuk didengarkan, dibantu
pekerjaannya, dicarikan solusi untuk permasalahan-permasalahannya, dan
memahami perasaan-perasaan yang dirasakan oleh seorang isteri.
Kemudian jika
pertanyaannya bolehkah seorang isteri minta bantuan kepada suami? Jawabannya, justru seorang suami harus mau
membantu isterinya. Karena di dalam Al- Qur’an, perintah terhadap seorang
suami terkait dengan tanggung jawabnya kepada keluarga, tidak hanya tertulis
dalam surat Al-Baqarah: 233, yakni tanggung jawab mencari nafkah berupa
makanan dan pakaian yang layak, tetapi ada juga perintah-perintah lainnya,
salah satunya yang tertulis dalam Q.S. At Tahrim:6
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,
dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At Tahrim
: 6)
Bagaimana proses
menjalankan perintah-perintah ini bisa dilakukan jika tidak pernah ada
interaksi dan pemberian pendidikan secara langsung oleh suami kepada isteri
dan anak-anaknya, termasuk di dalamnya adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan seorang
isteri akan bantuan di luar kemampuan isteri dalam menjalankan tugas-tugas
domestiknya.
Hal-hal apa sajakah yang
bisa dilakukan oleh para suami agar para isteri merasa bahagia menjalankan
amanahnya di dalam rumah? Para isteri di rumah mempunyai tanggung jawab untuk
mengurus dan mendidik anak-anak sehingga para suami pun wajib berusaha
mencukupi nafkah agar para isteri tidak berada pada kondisi terpaksa harus ke
luar rumah. Terkecuali, pada peran-peran tertentu yang memang dibutuhkan
kehadiran seorang perempuan, maka para suami harus berpikir tentang
supporting sistemnya apabila ternyata memiliki isteri yang secara peran
betul-betul dibutuhkan di masyarakat.
Namun, jika memiliki
isteri yang hanya konsen di rumah, maka hal lain yang bisa dilakukan oleh
seorang suami adalah mendukung dan mengizinkan isteri agar bisa berkarya di rumah. Misalnya saja memiliki
sebuah usaha di rumah atau mengaktualisasikan hobi dan minat di rumah. Hal ini
akan sangat membantu sang isteri untuk mengatasi kejenuhan karena rutinitas
yang terus-menerus dan berulang-ulang. Seorang isteri pun adalah manusia
biasa yang butuh variasi hidup, yang salah satunya bisa dilakukan dengan
mengaktualisasikan diri untuk berkarya di rumah.
Selain itu, seorang
isteri juga membutuhkan ilmu dalam menjalankan peran sebagai seorang isteri
sekaligus ibu, terutama perannya sebagai seorang ibu. Maka sangat penting
bagi seorang suami untuk membekali isteri dengan sekian sarana dan prasarana
yang dapat membantu isteri dalam mendidik dan mendampingi anak-anak di rumah.
Misalnya, seorang suami mengizinkan isteri menuntut ilmu sesekali sebagai
bentuk mengisi “me time” dalam rangka mengup-grade diri yang pada akhirnya
membantu meningkatkan kualitas diri seorang isteri dalam menjalankan amanah
di dalam rumah sebagai madrasah utama bagi anak-anaknya. Seorang suami juga
harus mau meluangkan hartanya untuk
investasi pendidikan isteri dan anak-anaknya supaya bisa lebih baik lagi.
Selain berperan sebagai
isteri dan seorang ibu, seorang perempuan juga memiliki peran dalam kehidupan
masyarakat sehingga jika sesekali seorang istri harus menjalankan peran
amanah di dalam masyarakat, maka suami juga perlu memberikan dukungan. Dukungan
yang diberikan bisa berupa pemberian dana, menjamin transportasi atau
termasuk menjadi supporting system
urusan domestik pada saat seorang isteri harus ke luar rumah dalam rangka
menjalankan perannya di masyarakat.
Bagaimana pun, salah
satu yang termasuk sebagai ciri manusia terbaik adalah orang yang mempunyai
manfaat untuk orang lain. Jika ternyata seorang isteri mempunyai potensi
memberikan kebermanfaatan untuk masyarakat, maka kenapa tidak bagi seorang
suami untuk memberikan dukungannya?
Seorang isteri juga
manusia biasa yang bisa lelah dan membutuhkan refreshing. Maka hal lain yang juga bisa dilakukan oleh seorang
suami misalnya menginfakkan sebagian harta dan waktu untuk mengisi kualitas
akhir pekan sehingga terbangun kedekatan antar anggota keluarga, menghibur
isteri yang bisa menjadi sebuah ibadah bagi suami. Kemudian memberikan
kesempatan refreshing bagi isteri,
bisa berupa pijatan jika memang diperlukan, atau mungkin ke salon agar sang
istri bisa refresh dan istirahat sehingga
lebih siap lagi dalam menjalankan amanah-amanahnya untuk satu pekan
berikutnya, terutama saat ditinggalkan oleh suami yang harus ke luar rumah
untuk mencarai nafkah.
Terkait dengan
aktualisasi diri seorang isteri, para suami juga perlu untuk mendukung minat
dan bakat seorang isteri agar mempunyai kesempatan untuk mengasah minat dan
bakat tersebut selama secara porsi dan secara waktu tidak mengganggu urusan
domestik.
Kebutuhan penting
lainnya dari seorang isteri yang sangat perlu untuk dipenuhi oleh seorang
suami adalah kebutuhan akan perhatian, pujian, dan kebutuhan untuk
didengarkan keluh kesahnya untuk me-recharge
kembali semangatnya. Bukan karena merasa kurang ikhlas atau ingin riya’,
tetapi seorang isteri butuh untuk didengar dan diapresiasi sehingga hal ini
perlu menjadi perhatian seorang suami yang bisa diniatkan sebagai upaya
meningkatkan performa seorang isteri dalam menjalankan perannya di rumah.
Wallahu a’lam..
|
Sumber: tanya
jawab kulwapp Home Education bersama Kiki Barkiah.
Langganan:
Postingan (Atom)
Persiapan menuju Ramadan 1443H-Menyapih
Ramadan 1443 H tinggal menghitung hari. Kira-kira akan dimulai pada 2 April nanti. Setiap orang tentu memiliki persiapan masing-masing. Ada ...
-
Gambar diambil dari http://raudhatulqaanitah.wordpress.com/ Resensi Materi Kajian Selasa, 29 April 2014 oleh Ustadz Abdurrahman Asseg...
-
Gambar diambil dari http://widyabisniskoe.blogspot.com/ Resensi Materi Kajian Rabu, 7 Mei 2014 oleh Ustadz Abdurrahman Assegaf Ab...
-
Gambar diambil dari http://kolom.abatasa.co.id/ Resensi Materi Kajian Selasa, 6 Mei 2014 oleh Ustadz Abdurrahman Assegaf Q.S. ash...